Minggu, 11/04/2021 13:47 WIB WIB

Menggapai Yang Terkulai

Menggapai Yang Terkulai Foto : imperialismindonesia.com


Pernahkah anda membayangkan seorang gadis kecil, di usia lima belas tahun atau kurang, harus siaga melayani nafsu sahwat puluhan lelaki hanya dalam rentang waktu satu hari? Beningkah bola matanya di usia belianya itu? Ketika teman seusianya merayakan masa remaja dalam tawa, senda gurau dan berbagai aksi memuja diri, seberapa hambar senyum yang harus ia buat untuk melipur diri? 

“ Perdagangan manusia untuk sex (sex trafficking) itu terjadi di ­Indonesia dan saya tidak bisa menerima itu,” sergah Rahayu Saraswati D. Djojohadikusumo, Putri ke dua dari tiga bersaudara Pengusaha kondang Hasyim Djojohadikusumo, keponakan Prabowo Subianto Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, dalam tatapan yang nanar. 

Semuanya bermula ­ketika Sara, panggilan akrab wanita penuh talenta bernama ­lengkap ­Rahayu Saraswati D. ­Djojohadikusumo mengahdari sebuah ­konferensi mengenai ­perdagangan manusia di Inggris. Terbelalak ia mengetahui bahwa sex slavery, perbudakan sex yang melanda kaumnya pada usia muda ­mencapai angka 67 juta orang.  Sebuah ­kontras yang menyakitkan dihadapan ­peradaban modern abad 21. 

“Yang menyedihkan adalah fakta bahwa orang-orang yang diharapkan melindungi mereka justru ­memanfaatkan mereka secara tegah,” tegas Sara. Umumnya adalah ­gadis-gadis muda yang ditinggalkan orang tua kandungnya dan dibesarkan oleh orang tua angkat mereka.

Yang paling menyedihkan lagi adalah kenyataan bahwa ­perbudakan sex yang melibatkan gadis-gadis usia belasan tahun justru terjadi juga di Indonesia dan nampak berjalan tanpa disadari. Atas ­keprihatinan yang tinggi terhadap human ­trafficking di ­Indonesia, Sara bersama ­teman-temannya melakukan riset lapangan dan menemukan praktek perbudakan sex secara massal tidak jauh dari Jakarta. 

“Praktek kawin kontrak yang sudah lama berlangsung di sini adalah bentuk dari human ­trafficking atau modern slavery yang ­bahkan dalam batas-batas tertentu ­diterima secara sosial,” jelas Sara. Ia ­mengisahkan bagaimana gadis-gadis belasan tahun bisa lima kali cerai dalam tingkatan usia itu tanpa ada yang ­mempermasalahkan. Dalam ­ketidakberdayaan, mereka dijadikan sumber pendapatan bagi keluarga tanpa ada pranata yang memadai untuk mengangkat mereka dari kubangan itu.  

Dalam perspektif global, ­human trafficking ini adalah kejahatan ­terorganisir dan berdiri sejajar dengan perdagangan senjata dan obat-obatan terlarang (drugs).

“Masalah human trafficking bukan terletak pada jumlah ‘barang’ yang diperdagangkan, tetapi bahwa ­perdagangan manusia itu menyangkut jiwa yang harus diselamatkan,” tegas Sara. Mengetahui adanya praktek ­seperti itu dan tidak melakukan ­apa-apa berarti pembiaran yang keji.

  

Indonesia For Freedom

Berbuat sesuatu menyangkut perdagangan wanita untuk sex (sex ­trafficking) tentu bukan hal yang ­mudah. Disamping kenyataan bahwa sex trafficking ini adalah bentuk ­kejahatan terorganisir ­dengan ­potensi bahaya yang melekat, sederet ­kegiatan harus ­dilakukan secara terencana ­untuk tidak ­membuat siklus ini ­bermula lagi dari awal. Sara ­mengisahkan bagaimana ­gadis-gadis muda yang sudah dapat diselamatkan dari mafia perdagangan wanita akhirya kembali dimangsa oleh ­lingkungannya, bahkan oleh ­keluarganya sendiri. 

“Proses ini harus berawal dari pencegahan (prevention), ­interception, prosecution dan reintegration dan harus ada jaringan internasional yang bekerja secara komprehensif untuk menanggulangi human trafficking ini,” urai pegiat kemanusiaan dan artis film ini. 

Berkat pertemanannnya pada ­tingkat global karena lama ­bermukim di luar negri Sara menerima ­dukungan dari berbagai belahan bumi ­untuk menggapai mereka yang sudah ­terkulai.

“Saya sadari ini bukan pekerjaan mudah karena melibatkan banyak pihak dan dana yang besar. Tetapi something has to be done---sesuatu ­memang harus dilakukan untuk ini,” ujar host TalkIndonesia TV show bersama Dalton Tanaka ini. 

Berkat dukungan keluarga dan ­jaringan pertemanannya, Sara ­me-launch Indonesia For Freedom, sebuah gerakan untuk meningkatkan ­kesadaran akan perdagangan manusia di Indonesia.

“Banyak gadis-gadis muda terjebak dalam perdagangan manusia karena ketidaktahuan mereka. Intinya adalah kemiskinan, tidak hanya dalam artian materi tetapi juga kemisikinan otak mereka,” jelasnya. 

Kampanye ini diharapkan akan menjadi trend di masyarakat untuk bersama-sama memerangi praktek penjualan manusia di Indonesia, gerakan serupa yang populer di Afrika dan beberapa negara lain. 

“Visi jangka panjangnya ­adalah menyiapkan shelter untuk proses ­reintegrasi  karena korban  ­memang sudah ada tetapi tidak ada ­infrastruktur yang memadai untuk memulihkan mereka,” ungkap Sara.

Berbeda dari kebanyakan anak dari keluarga kalangan atas yang cendrung memilih untuk menyusu pada kemewahan, Sara adalah  wanita muda mandiri dengan kualitas unggul hampir dalam berbagai hal: intelektualitas, profesionalitas dan personalitas.

Lama menetap di Amerika, ­Perancis dan Inggris untuk studi, ia dikenal ambisius dan substansial ­dalam setiap apa yang kerjakan ­dengan tetap memegang teguh ­nilai-nilai yang ia peroleh dari rumah:

 

Apa kegiatan anda hari ini?

Banyak.  Dunia saya memang ­acting tetapi saya juga sibuk di ­Production House dan sejumlah usaha lain, advokasi untuk human ­trafficking, giat di Tidar untuk ­pemberdayaan perempuan, host TalkIndonesia di Metro TV.

 

Dari latar belakang keluarga ada darah politik pada anda. Anda ­tertarik juga ke politik?

Saya mengatakan terus terang bahwa saya alergi politik. Saya alergi karena sistem politik yang  ada di ­Indonesia meski saya sadari ­perubahan dapat bisa cepat terjadi melalui politik.

 

Anda lama belajar dan tinggal di luar negeri. Apa yang anda pelajari disana?

Saya mengagumi sistem ­pendidikannya yang selalu membuka ruang untuk perdebatan. Lain dengan sistem kita yang mengamini semua apa yang dikatakan guru.

 

Anda aktris, selebritis tetapi ­menjadi pekerja sosial?

Saya berharap jika saya punya nama besar melalui dunia acting, saya dapat menggunakan pengaruh itu untuk program-program kemanusiaan seperti masalah human trafficking. Masalahnya saya sangat memilih milih peran, karena bagi saya peran yang saya mainkan harus mempunyai pesan moral.

 

Bagaimana anda melihat concern generasi muda seusia anda  terhadap masalah-masalah bangsa?

Saya melihat sudah ada ­gerakan-gerakan dari anak-anak muda seusia saya untuk melakukan ­perubahan. Tidak semuanya melalui jalur politik. Banyak yang berjuang melalui profesi mereka. Tetapi terus terang ada frustrasi karena melihat apa yang dilakukan pendahulu mereka. Untuk mereka yang lebih mudah dari saya, nasionalisme menjadi persoalan serius karena sistem pendidikan yang tidak membuka wawasan ke arah itu.

 

Apa pendapat anda mengenai pemimpin?

Pastinya pemimpin harus bisa mengambil keputusan seberat apa pun. Dia harus mempunyai visi yang sustainable untuk kepentingan umum.Masalah terjadi ketika pemimpin ingin membuat semua orang senang. Ini kesahakan terbesar, menurut saya. Ia harus percaya pada apa yang putuskan dan teguh dengan itu sambil menghormati pendapat orang lain yang berbeda. Ini masalah integritas dan masalah track record. Orang tidak akan percaya ketika ia tidak konsisten dengan apa yang sudah ia katakan.

 

Apa panggilan anda terhadap pak Prabowo?

Saya memanggilnya pak De. Saya mengagumi beliau karena ­cintanya terhadap Indonesia, lepas dari ­bagaimana orang lain melihatnya.

Topik :

Artikel Terkait
Terpopuler