Kamis, 06/10/2022 07:51 WIB WIB

Mungkinkah Duet Puan Maharani - Gibran Rakabuming Raka ?

Mungkinkah Duet Puan Maharani - Gibran Rakabuming Raka ? Spanduk Puan dan Gibran di Solo


Lider.id: Jakarta- Politik itu dinamis, cepat berubah dalam hitungan bulan, jam bahkan mungkin menit. Mencari pemimpin memang lebih sulit ketimbang mencari seseorang untuk menduduki jabatan tertentu dalam suatu pemerintahan. Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam beberapa kesempatan mengatakan, PDIP mencari pemimpin. Pernyataan Megawati memiliki makna yang sangat luas dan dalam mengingat kapasitasnya  sebagai seorang tokoh politik yang telah makan asam garam politik, baik  sebagai Ketum PDIP, mantan presiden RI ke-5, dan juga anak biologis dari proklamator Soekarno.

 Instinct politik terbentuk sejak awal melihat mengikuti perjalan politik ayanya memproklamirkan bangsa Indonesia kemudian menjadi Presiden pertama RI hingga di jatuhkan tahun 1967> Megawati juga mengalami hidup yang sangat sulit sebagai anak presiden, tidak bisa melanjutkan kuliah, dan menghadapi tekanan yang luar biasa. Ia juga merasakan bagaimana manuver elite politik di Senayan ketika PDIP memenangkan pemilu 1999, pesta pemilu demokratis pertama pasca jatuhnya Soeharto, tetapi ia gagal pada pilpres tidak langsung di MPR tahun 1999. Mega hanya terpilih menjadi wakil presiden mendampingi KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) presiden terpilih. Ini ironis karena  Megawati dan PDIP adalah partai pemenang pemilu, sedang Gus Dur dan PKB adalah partai kelas menengah.

Satu hal yang pasti. Urusan mencari dan memilih  presiden sebagai pemimpin nasional untuk republik ini memang harus dengan hitungan yang matang, dan serius tanpa syarat pragmatis. Disamping data,  instinct politik pengusung  menjadi faktor yang krusial  karena nasib bangsa dan negara dipertaruhkan.

Menanti Keputusan Megawati Soekarnoputri

Megawati adalah satu-satunya tokoh politik yang tidak ingin bermanuver dengan elite politik dengan  iming-iming akan menjadikannya sebagai presiden bila presiden Gus Dur  di lengserkan pada periode 2000-2001. Ada keyakinan Megawati bahwa sebagai wakil presiden, ia tidak memiliki keputusan kepwapres, dan menolak bermanuver bersama ketum partai lain di bawah komando ketua umum PAN Amin Rais yang juga kapasitasnya sebagai ketua Fraksi Poros Tengah di MPR, fraksi yang bermanuver menggolkan Gus Dur menjadi Presiden ke-4 RI. Fraksi yang didominasi partai Islam di MPR itu juga yang bermanuver melengserkan Gus Dur pada Sidang Istimewa MPR Juli 2001. 

Penolakan bermanuver politik oleh Megawati sebagai Ketum PDIP dan juga sebagai wakil presiden sangat bermoral dan etis, karena kelak ketika Gus Dur di lengserkan toh yang boleh menggantikan hanyalah wakil presiden sebagaimana termaktup dalam amanat konstitus UUD 1945. Dialah satu-satunyanya tokoh partai yang menentang kepemimpinan otoriter Soeharto yang sangat kuat di backup penuh oleh ABRI hingga berakhir dengan peristiwa berdarah di Gedung PDI Diponegoro 27 Juli tahun 1997 (Kudatuli,red).

Alhasil,  setelah Soeharto di jatuhkan melalui gelombang reformasi 1998, kemudian PDIP memenangkan pemilu 1999 secara signifikan juga tidak terpilih menjadi presiden, dan dua kali kalah suara berhadapan dengan Jenderal TNI (purn) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada pilpres 2004 dan pilpres 2009.

Secara konsisten Megawarti merawat PDIP mengambil langkah oposisi berhadapan dengan pemerintahan SBY selama 10 tahun dengan konsekuensi tidak masuk dalam kabinet SBY. Komitmen, konsisten dan ketekunan Megawati Soekarnoputri mencari pemimpin terbukti, ketika ia memilih Walikota Surakarta Ir. Joko Widodo (Jokowi) untuk bertarung pada pilpres 2014 dan 2019. Pilihan Megawati memang jitu, Jokowi adalah sosok yang tepat menjadi pemimpin bangsa yang besar ini, terbukti dari langkah dan kebijakannya melewati berbagai masa sulit, dan pembangunan dapat dilihat dimana-mana, bahkan banyak survery menunjukkan di akhir masa jabatan kedua Jokowi, kepercayaan public pada Jokowi mencapai 87 persen, suatu prestasi yang tidak pernah diperoleh seorang presiden Indonesia sejak Merdeka tahun 1945, bahkan dunia. Biasanya, menjelang periode kedua, prestasi presiden selalu mengalami penurunan.  Kata orang  , dibalik pemimpin yang hebat  ada perempuan hebat yang memilihnya.

Duet Puan - Gibran

Duet Puan -Gibran bila terjadi pada pilpres 2024, kata alm. Sutan Batugana, “ini ngueri-ngueri sedap”. Mungkin tidak terbayangkan oleh elite parpol yang sedang bermanuver mencari penguasa Indonesia pasca Jokowi Ma’ruf Amin. Bisnis survey capres yang buming di era SBY, kini mengalami anti klimaks.

Publik  bahkan setiap orang terutama kaum milenial hari ini sudah dapat melakukan survery sendiri melalui berbagai perangkat digital yang dimiliki. Dalam tempo satu hari, tanpa ada yang membayar, mereka dapat menemukan tokoh yang dikehendaki rakyat. Kekuatan relawan pro Jokowi yang masih setia terhadap kepemimpinan Jokowi bahkan bermanuver mendorong Jokowi tiga periode, itupun mampu mempengaruhi beberapa partai politik papan atas mendukung gagasan itu.

Saya teringat, iklan minyak gosok di televisi, “buat anak ko coba-coba, eh salah untuk anak kok coba-coba”. Memimilih pemimpin untuk memimpin negara bangsa demokratis berpenduduk 270 juta yang  notabene mayoritas beragama Islam, tidak bisa coba-coba seperti propaganda iklan.  Akan tetapi, yang perlu di lihat adalah rekam jejak , bukan jejak yang di rekam kata Peneliti CSIS J. Kristiadi. Dan yang paling penting kapasitas dan motivasi yang mengendorse calon presiden.  

Kata bijak dari Mantan Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln,  : “if you want to test a man’s character, give him power”.  Maknanya adalah bila anda ingin menguji karakter kepemimpinan seseorang, berilah dia kekuasaan.

Kita bisa saja berpendapat sesuatu yang wajar saja jika Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri akhirnya menjatuhkan pilihan pada Puan Maharani dan Gibran Rakbuming Raka.  Dari sisi karakatkter kepemimpinan, kedua tokoh ini kapasitasnya jelas, Puan terpilih sebagai Ketua DPR RI dengan suara terbanyak  dan Gibran terpilih menjadi Walikota Surakarta juga  dengan  suara yang sangat signifikan dan telah terbukti gaya kepemimpinan mereka.**

  

Topik : Duet Puan - Gibran

Artikel Terkait
Terpopuler