Rabu, 08/02/2023 11:13 WIB WIB

MOMENTUM INDONESIA

MOMENTUM INDONESIA Biden -Xi - Putin - Zelenskyy : Foto ilustrasi Kompas


Lider - Jakarta : Publik Indonesia dan dunia saat ini harap-harap cemas menanti hasil Keputusan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok G20 yang akan berlangsung 16-18 November 2022 di Bali. Para pemimpin penentu perang atau damai di bumi, sepakat hadir di Pulau Dewata, Bali, dan diharapkan mereka mampu mengakhiri perang  Rusia vs Ukraina  sudah berlangsung lebih dari 10 bulan. KTT juga sebagai selebrasi dunia memenangkan serangan pandemi Covid 19 yang sempat memusingkan para pemimpin dunia. Walaupun isyu perang bukan utama dalam pembahasan KTT G20, namun  isyu peran tetap menjadi variable penentu terhadap hasil dan implementasi nantinya. Tentu tujuan KTT G20 di era disrupsi teknologi saat ini sebagai sinya pemicu membangun Tata Dunia Baru. Presidensi G20 yang dipimpin Presiden Jokowi merupakan momentum, pertama merupakan peluang menghidupkan kembali visi Presiden Soekarno dan meyakinkan  lima prinsip dalam Pancasila sebagai jalan tengah menata dunia lebih yang damai, adil dan sejahtera bebas dari ancaman senjata pemusnah masal; kedua, peluang emas bagi Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bertemu untuk mengakhiri perang; ketiga, peluang bagi Amerika Serikat  dan NATO  mengakhiri provokasi perang tanpa kehilangan muka; keempat, peluang rekomendasi G20 untuk mereformasi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan seluruh perangkatnya yang tampak mulai kehilangan wibawa. Peluang ini ada dan hidup di diri Jokowi. Adakah miracle?

Mengutip Falsafah Jawa, “Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake”. Ungkapan ini bermakna, menyerang tanpa menyakitkan, menang tanpa ada yang merasa kalah. Artinya tujuan penyelenggaraan KTT G20 harus sukses, ya, dan hasilnya dapat di implementasikansoal butuh kerja keras dan cerdas, tetap saja prayaratnya, hentikan peperangan. Terkait perang antara Rusia dan Ukraina, harus dicapai kesepakatan bahwa pada titik ini, hanya satu kata: enough is enough!  Mundurnya Rusia dari Kherson City dimana rakyat meluapkan kegembiraan di hari-hari menjelang KTT G20 merupakan sinyal optimis perdamaian akan tercapai di seluruh Ukraina. Saatnya, memunculkan kesadaran kolektif menghindari malapetaka lanjutan di wilayah lain yang bisa memicu perang dunia ketiga. Kalaupun, Putin dan Zeleinskyy tidak dapat hadir karena alasan keamanan, dan Joe Biden belum mampu menghadirkan kehadira mereka di KTT Bali, hal itu menunjukkan bahwa AS masih tetap mempertahankan gengsi sebagai polisi dunia. Bagi Indonesia, sebagai pemimpin G20, sudah maksimal upayanya sudah sejalan dengan konstitusi. Walau di akui nalar rasional atas nama demokrasi sulit menerima nalar berfikir falsafah Pancasila. Utamanya, bagaimana agar mereka bisi duduk bersama dan berbicara tentang masa depan. Peluang masih ada, keduanya secara online atau offline hanyalah soal tekhnis, tapi niat saja tidak cukup, tapi peran AS sangatlah krusial untuk memastikan dunia lebih damai, adil dan sejahtera. Sebagaimana tema KTT G20, Recover Together; Recover Stronger. Dan falsafah Jawa itu hanya ada dan hidup di diri Jokowi.

Faktor Jokowi

Publik tentu berhaharap, pertama, KTT Bali harus sukses menghadirkan semua pemimpin negara walau situasi sangat sangat tidak kondusif; kedua, hasil kesepakatan deklarasi Bali harus dapat di implementasikan, sekaligus membawa manfaat bagi bangsa Indonesia khususnya, dan dunia pada umumnya terutama anggota G20. Nada pisimis publik pun terhadap perhelatan akbar, nada kritis yang di sebarluaskan melalui media massa merup yang dilansir media massa merupakan alat kontrol yang konstruktif mengingatkan pemimpin dunia bahwa dunia telah berubah soal cara  pandang, cara piker dan kerja. Dominasi pemberitaan media massa oleh Barat sejak perang dingin (cold war), kini telah berubah di era media sosial yang dimotori teknologi informasi dan telekomunikasi baru.  Walau isyu perang Rusia vs Ukraina  bukan agenda utama, namun keputusan KTT G20 Bali tidak bisa menghindar dari isyu tersebut, karena hampir semua negara G20 terlibat perang baik yang pro Rusia maupun Ukraina langsung maupun tidak. Secara logika apapun hebatnya keputusan KTT Bali, hanya dapat diimplementasi manakala perang dihentikan dan perdamaian tercapai di Eropa, dan mencegah konflik serupa di belahan dunia lain. Ini hanya dapat tercapai kalau kedua pemimin negara bertikai mendapat jaminan duduk bersama untuk menyudahi peperangan. Fakta hingga hari ini, Rusia dan Ukraina masih saling menyerang di wilayah Ukraina, korban terus berjatuhan pengungsi dari kedua negara terus mengalir ke berbagai negara di Eropa, dan sekitarnya.  Harapan fasilitasi dan jaminan keamanan oleh AS untuk Rusia dan Ukrainan di Bali bagaikan jauh panggang dari api, tapi bagi Indonesia, miracle selalu datang pada saat yang tepat tanpa logika mayoritas tanpa batas ruang dan waktu. Media massa memberitakan beberapa negara menolak kehadiran Putin di KTT G20, bahkan meminta Indonesia mengeluarkan Pemimpin Rusia itu dari keanggotaan G20, bahkan ancaman boikot KTT bila Putin hadir, sudah di halau Indonesia, dan terbukti informasi terakhir 17 pemimpin dunia sudah bersedia hadir secara fisik di Bali. Pertanyaannya, mungkinkah factor Jokowi  memberikan andil dalam usaha damai Putin dan Zelenskyy. Sesungguhnya, Jokowi sudah memulai langkah ini menyambangi Kyev dan Moscow,  meski masih satu arah.  

17 Kepala Negara dan Kepela Pemerintahan, termasuk 10 pimpinan negara non anggota G20 yang juga di undang dipastikah hadir. Negara-negara tersebut al : Presiden Amerika Serikat Joe Biden, Presiden Chin Xi Jin Psing, Perdana Menteri Inggris, Rishi Sunak, Chancellor Jerman, Olaf Scholz, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri Australia Hon Anthony Albanese, Perdana Menteri India Narendra Modi, Sekjen PBB Antonio Guteres dan sejumlah pemimpin negara dan pemimimpin lembaga internasional, regional dalam pertemuan akbar tersebut. Tema bangkit besama dan lebih kuat lagi dalam dunia yang baru saja pulih dari pandemi covid 19, yang kemudian G20 kali ini di bebani dengan perang Rusia vs Ukraina, isyu Taiwan, dan konflik di belahan dunia yang lain muncul di saat PBB sudah diambang kehilangan trust. Harus di ingat perang Rusia vs Ukraina, bukan semata kedua negara, tapi sesungguhnya perang antara dua raksasa pemegang kendali senjata nuklir yang kini saling mengancam dan terus memainkan pengaruh. Mereka ada di Bali, bila Putin atau tidak. Delegasi Moscow yang dipimpin Menlu Rusia  Sergey Lavrov yang mewakili Presiden Vladimir Purtin, minimal ada tanda-tanda menuju perdamaian. Dan mndurnya Rusia wilayah Kherson juga merupakan signal positif. Yang menjadi rumit dan harus dicegah adalah provokasi pendukung dua raksasa ini yang sesungguhnya memiliki kepentingan yang berbeda pula, ketika semua ideologi, terutama Demokrasi vs Komunis sudah terjebak oligarki kapitalisme dan mereka pemegang kontrol kendali nuklir yang setiap saat dapat mengacam. Bila Saja, AS dapat memainkan peran  perdamaian. Mungkin dunia dapat menyaksikan ngopi bareng, Biden- Putin; atau juga Biden-Putin – Xi.

Arsitektur Tata Dunia Baru

Dunia hari ini, sudah serba mungkin, nothing is impossible. Invasi Rusia ke Ukraina hanyalah sebuah akibat dari kebuntuan diplomasi yang sudah berlangsung lama. Yang tampak hanyalah Ukraina dijadikan arena perang terbuka tempat uji coba persenjataan modern, sekaligus menghabiskan amunisi buatan era perang dingin. Pemicunya adalah Amerika dan Rusia, maka kedua negara adidaya itu harus mampu menyelesaikannya. Putin maupun Biden akan berakhir, sejarah mencatat apakah mereka akan bernasip seperti Adolf Hitler, atau Nelson Mandela. Yang perlu di selamatkan masyarakat Rusia dan Ukraina bahkan dunia yang sedang dibayang-bayang krisis maha hebat akibat perang. Ketegasan Indonesia sebagai tuan rumah tidak mengeluarkan Putin dari agenda KTT G20 melaksanakan komitmen konstitusi  sudah diterima. Para pemimpin dunia harus mampu menahan diri, dan belajar dari sejarah mereka sendiri bahwa dunia sudah berubah oligarki akan lenyap, rakyatlah yang berkuasa hari ini. Saatnya mereka meninggalkan legasi dan menyambut era baru yang lebih damai, adil dan sejahtera bagi umat manusia for the next generation. Indonesia adalah negara yang berideologi Pancasila yang percaya pada keajaiban (Miracle), berbeda dengan Barat yang mengandalkan rasionalitas dan logika. Harusnya Barat yang mendominasi dunia ber-abad-abad lamanya sebagai imperialis dan kolonialis tau bagaimana menundukkan Putin seorang. Karena bila perang berlansung lama, yang rugi bukan saja Rusia dan Barat, tapi dunia menghadapi krisis hebat  dan sulit untuk mengimplentasi hasil keputusan KTT  G20 Bali. Oleh karena itu, momentum menghadirkan Presiden Putin dengan jaminan keamanan Barat sesungguhnya suatu keniscayaan yang sesungguhnya advantage bagi Amerika dan NATO. Masalahnya perang sudah terjadi, korban sudah banyak, malapetaka terjadi di mana-mana, bahkkan dampak krisis multi dimensi sudah terasa akibat sanksi dan embargo. Yang perlu dipertimbangkan Presidensi  G20 adalah bagaimana agar mengakhiri  perang, dan memulai sesuatu yang baru lebih damai dan bersahabat. Jokowi adalah miracle itu sendiri untuk meyakinkan Barat dan AS bahwa sesungguhnya Barat tidak kehilangan muka. Bahkan Vladimir Putin akan menghadapi ujian politik di dalam negerinya dimana warganya sudah merasakan ketidak puasan akibat perang. PBB sesungguhnya memiliki isntrumen mencegah maupun menyelesaikan sengketa, tapi PBB juga kehilangan kepercayaan. Bahkan bisa terjadi fireback, apabila ternyata masuknya Rusia ke Ukraina ada cela yang memungkinkan perang itu terjadi. Yang perlu dipastikan oleh Presidency G20 Indonesia adalah pertama, G20 pelopor diplomasi yang berwibawa untuk hentikan perang; kedua, bergotong royong membangun kembali Ukraina yang sudah luluh lantah sebagai, war torn country; ketiga, memastikan PBB menempatkan pasukan perdamaian di Ukraina; keempat, mendorong PBB untuk membentuk badan khusus untuk merumuskan arsitektur Tata Dunia Baru, termasuk mereformasi tubuhnya sendiri.

Kalau terjadi maka sejarah akan mencatat dengan tinta emas bahwa merekalah arsitek Tata Dunia Baru yang di impikan umat manusia.  Pemimpin dunia dalam G20, harus percaya bahwa setiap pemimpin ada masanya. Agenda-agenda yang akan dibahas dan di tanda tangani para pemimpin G20 dalam sebuah deklarasi bersama sudah hampir pasti akan terjadi, karena telah dilalui oleh berbagai pertemuan tingkat pejabat tinggi, Menteri. KTT G20 Bali hanyalah polesan akhir saja lasimnya KTT yang pernah terjadi sebelumnya. Jelas masalah keuangan global, ekonomi, politik, teknologi, dan budaya merupakan isyu-isyu utama di KTT Bali, akan tetapi isyu keamanan terkait perang Rusia vs Ukraina adalah variable kritis yang memungkinkan semua itu bisa di implementasikan. 

Ini momentum Indonesia, sekaligus menghidupkan kembali visi Presiden Soekarno di SU PBB 1960 tentang, "To Build The World Anew - Membangun Tata Dunia Baru" - yang lebih damai, adil  dan sejahtera bebas dari ancaman senjata nuklir. Welcome to Paradise leaders of G20. We wish you luck.  

Topik : Momentum Indonesia

Artikel Terkait
Terpopuler