Kamis, 18/04/2024 12:04 WIB WIB

MENGINGAT WARISAN PRAMOEDYA ANANTA TOER

MENGINGAT WARISAN PRAMOEDYA ANANTA TOER MENGINGAT WARISAN PRAMOEDYA ANANTA TOER


LIDER.ID-  Pramoedya, putra seorang guru sekolah, pergi ke Jakarta saat remaja dan bekerja sebagai juru ketik di bawah pendudukan Jepang selama Perang Dunia II. Pada tahun 1945, pada akhir perang, ketika Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya dan memberontak melawan pemerintahan kolonial Belanda, dia bergabung dengan kaum nasionalis, bekerja di radio dan memproduksi majalah berbahasa Indonesia sebelum ditangkap oleh otoritas Belanda pada tahun 1947.

Dia menulis novel pertamanya yang diterbitkan, Perburuan (1950; The Fugitive), selama dua tahun di kamp penjara Belanda (1947–49). Karya itu menggambarkan pelarian seorang pemberontak anti-Jepang kembali ke rumahnya di Jawa.

Setelah kemerdekaan Indonesia diakui oleh Belanda pada tahun 1949, Pramoedya menghasilkan aliran novel dan cerita pendek yang mengukuhkan reputasinya. Novel Keluarga gerilja (1950; “Keluarga Gerilya”) mencatat konsekuensi tragis dari perpecahan simpati politik dalam sebuah keluarga Jawa selama Revolusi Indonesia melawan pemerintahan Belanda, sementara Mereka jang dilumpuhkan (1951; “Yang Lumpuh”) menggambarkan bermacam-macam narapidana yang aneh.

Kompilasi cerpen Pramoedya antara lain  Subuh (1950; “Fajar”) dan Pertjikan revolusi (1950; “Percikan Revolusi”) berlatar belakang Revolusi Indonesia, sedangkan cerpen dalam Tjerita dari Blora (1952; “Tales of Bora”) menggambarkan provinsi Jawa. hidup pada masa pemerintahan Belanda.

Sketsa-sketsa dalam Tjerita dari Djakarta (1957; “Tales of Jakarta”) mengkaji ketegangan dan ketidakadilan yang dirasakan Pramoedya dalam masyarakat Indonesia setelah kemerdekaan tercapai. Dalam karya-karya awal ini, Pramoedya mengembangkan gaya prosa yang kaya yang menggabungkan tuturan dan gambaran sehari-hari Jawa dari budaya Jawa klasik.

Pada akhir 1950-an Pramoedya menjadi simpatik terhadap Partai Komunis Indonesia, dan setelah 1958 ia meninggalkan fiksi untuk esai dan kritik budaya yang mencerminkan sudut pandang sayap kiri. Pada tahun 1962 ia menjadi sangat dekat dengan kelompok budaya yang disponsori komunis.

Akibatnya, dia dipenjarakan oleh tentara selama penindasan berdarah kudeta komunis pada tahun 1965. Selama dipenjara, dia menulis serangkaian empat novel sejarah yang semakin meningkatkan reputasinya. Dua di antaranya, Bumi manusia (1980; Bumi Manusia) dan Anak semua bangsa (1980; Anak Semua Bangsa), mendapat sambutan kritis dan populer di Indonesia setelah penerbitannya, tetapi pemerintah kemudian melarang peredarannya, dan dua jilid terakhir dari tetralogi tersebut,

Jejak Langkah (1985; Langkah Kaki) dan Rumah Kaca (1988; Rumah Kaca), harus diterbitkan di luar negeri. Karya-karya akhir ini secara komprehensif menggambarkan masyarakat Jawa di bawah kekuasaan kolonial Belanda pada awal abad ke-20. Berbeda dengan karya-karya Pramoedya sebelumnya, karya-karya tersebut ditulis dengan gaya naratif yang lugas dan bertempo cepat.

Selama masa itu pula , ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, kemudian pada saat yang sama, ia pun mulai berhubungan erat dengan para penulis di Tiongkok. Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat-menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia.

Pramodya merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia. Pramodya secara terkenal mengusulkan bahwa pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa. Pada 1960.

Topik : MENGINGAT WARISAN PRAMOEDYA ANANTA TOER

Artikel Terkait
Terpopuler