Jum'at, 27/05/2022 07:54 WIB WIB

Demo Tolak Militer, 7 Tewas dan Ratusan Warga Cedera di Sudan

Demo Tolak Militer, 7 Tewas dan Ratusan Warga Cedera di Sudan Foto : AFP


Tujuh orang tewas dalam unjuk rasa menentang kudeta yang dilakukan militer Sudan, Senin, 26 Oktober 2021.

Pemuda, yang menentang kudeta membarikade jalan-jalan dan bentrok dengan tentara di Khartoum. Di kota Omdurman, pengunjuk rasa membarikade jalan dan meneriakkan dukungan untuk pemerintahan sipil.

"Burhan tidak bisa menipu kita. Ini kudeta militer," kata seorang pemuda bernama Saleh.

Tentara bertindak keras dalam membubarkan unjuk rasa, sehingga jatuh kurban. Selain tujuh korban meninggal, tidak kurang dari 140 pengunjuk rasa luka-luka, sebagian karena tindakan brutal militer.

Koalisi oposisi utama, Pasukan Kebebasan dan Perubahan, yang mendorong pencopotan Bashir dan merundingkan dewan militer-sipil, mengatakan di Twitter bahwa mereka menyerukan tindakan damai di jalan-jalan untuk menggulingkan pengambilalihan militer, termasuk demonstrasi, pemblokiran jalan dan pembangkangan sipil.

Militer merebut kekuasaan dari pemerintah transisi pada hari Senin. Pemimpin kudeta, Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, membubarkan Dewan Berdaulat militer-sipil yang telah dibentuk untuk mengantar negara menuju demokrasi setelah penggulingan otokrat lama Omar al-Bashir dalam pemberontakan rakyat dua tahun lalu.

Burhan mengumumkan keadaan darurat, dengan mengatakan angkatan bersenjata perlu melindungi keselamatan dan keamanan. Dia berjanji untuk mengadakan pemilihan pada Juli 2023 dan menyerahkannya kepada pemerintah sipil terpilih saat itu.

“Apa yang dialami negara saat ini merupakan ancaman dan bahaya nyata bagi impian para pemuda dan harapan bangsa,” katanya.

Kementerian Penerangan Sudan, yang masih setia kepada Perdana Menteri terguling Abdalla Hamdok, mengatakan di halaman Facebook-nya bahwa konstitusi transisi hanya memberikan hak kepada perdana menteri untuk menyatakan keadaan darurat dan bahwa tindakan militer adalah kejahatan. Hamdok masih merupakan otoritas transisi yang sah, katanya.

Hamdok, seorang ekonom dan mantan pejabat senior PBB, ditahan dan dibawa ke lokasi yang dirahasiakan setelah menolak mengeluarkan pernyataan untuk mendukung pengambilalihan tersebut, kata kementerian informasi.

Kementerian mendesak perlawanan dan mengatakan puluhan ribu orang yang menentang pengambilalihan telah turun ke jalan dan menghadapi tembakan di dekat markas militer di Khartoum. Karyawan bank sentral mengumumkan pemogokan untuk menolak kudeta, kata kementerian itu.

Pasukan telah menangkap anggota sipil Dewan Berdaulat dan tokoh-tokoh pemerintah, kata kementerian itu. Yang juga ditahan adalah direktur stasiun TV pemerintah, kata keluarganya.

Juru bicara Gedung Putih Karine Jean-Pierre mengatakan, "Kami menolak tindakan militer dan menyerukan pembebasan segera perdana menteri dan lainnya yang telah ditempatkan di bawah tahanan rumah."

Topik :

Artikel Terkait
Terpopuler